Beberapa hari tepatnya 120301 yang lalu pihak kantor meminta gw untuk ikut Psikotest karna kebetulan gw udah genap 1 tahun kerja maka salah satu syarat mutlak untuk menjadi karyawan tetap adalah harus mengikuti Psikotest, dari hasil Psikotest tersebut gw akan dinilai apakah gw cocok atau tidak pada posisi jabatan yang saat ini gw handle yatu Staff IT.

saat test ada beberapa pertanyaan yang gw ingat, “Siapakah nama presiden pertama Indonesia?”“Apa Mata Uang Negara Arab Saudi?” (beberapa pertanyaan  Test sekilas mirip pertanyaan yang ada di TTS hahahahah atau mungkin memang “nyomot” dari TTS ??? Who Knows ) – Test Persamaan gambar, Pauli Test (Test penjumlahan vertical. Yang menghitung urut dari bagian atas ke bawah) Test ini test itu ngitung ini ngitung itu dan bla bla bla lainnya….Everthing Is For Today dech…

Test tersebut menurut gw Mudah tapi jujur gw males ngerjain test -test tetek bengek itu (karna gw udah sering ikut psikotest – dan juga karna gw dulu sempet belajar Dasar Ilmu Psikologi hehehe )! walaupun Psikotest ini bertujuan baik untuk menilai menggambarkan orang seperti apakah kita.

Beberapa hari kemudian gw dipanggil oleh atasan gw untuk bicara “Empat Mata”,  di tangannya terdapat map yang gw duga adalah hasil Psikotest beberapa hari  yang lalu (ternyata dugaan gw bener).

“Ini hasil Psikotest Kamu” di berikannya hasil psikotest ke tangan gw, gw buka map tersebut dan perlahan-lahan membacanya dan ternyata hasil psikotest gw sangat mengejutkan… disitu tertulis tebal kurang lebih isinya “Gw tidak berkompeten menjadi Staff IT” dalem hati gw ketawa “ahhahahahahaha” sekaligus syok ngeliat hasilnya.

“Berdasarkan hasil Psikotest tersebut maka kami (PT. Bla..bla..blaaa) memutuskan bahwa kamu harus dikontrak kembali selama 1 Tahun” saat muncul statement ini gw langsung jengkel. kenapa mereka hanya menilai gw dari hasil Psikotest tersebut? jadi selama ini gw mondar mandri sana sini, setting ini itu, ngajarin ini itu tidak menjadi bahan pertimbangan dasar. mereka lebih mengutamakan hasil Psikotest dari pada hasil karya, intelektualitas dan kerja keras gw selama ini.

Memang agak sedikit aneh, Saya sudah 3 kali ikut Psikotest, di 2 instansi sebelumnya gw udah pernah ikut Psikotest dan hasilnya memuaskan, hanya 1 ini yang hasilnya bener2 mengejutkan dan akhir akhir ini slalu bikin ganjel di otak gw. ketika gw mengikuti Psikotest sedikitpun gw gak ditanya mengenai “Micorosft Windows, Linux, Networking, Firewall, Dkk” lalu bagaimana pihak penyelenggara Psikotest bisa Menentukan bahwa gw tidak berkompeten menjadi Staff IT? Seberapa pentingnya pertanyaan-pertanyaan Psikotest itu masih memiliki valliditas untuk menjadi tolak ukur kemampuan seseorang? (Mungkin hanya Psikolog yang berkompeten yang bisa menentukan).

“Kamu tidak cocok Kerja di air…” => gw ketawa mulu kalo liat/denger iklan ini nih, itulah hebatnya manusia jaman sekarang. mereka bisa menentukan “Nasib” seseorang berdasarkan sebuah SMS, ataupun melalui sebuah kertas hasil Psikotest. huss mulain ngaco omongan gw nih kl ada yang kesindir bisa repot nanti bisa kaya kasusnya Ibu Prita heheheh . Ok akan gw buat tulisan ini  enak dibaca oleh semua kalangan dan mengambil sisi positif dari seluruh rangkuman cerita diatas.

========================== Start Here ==========================

Saya tidak mau menerima mentah-mentah hasil Psikotest tersebut, jika anda dikategorikan sebagai orang yang “Bodoh, Idiot dan bla bla bla lainnya ” berdasarkan hasil Psikotest apa yang akan anda lakukan? apakah anda akan menerima begitu saja? tentu saja tidak. karna manusia tidak bisa di nilai seluruhnya begitu saja hanya pada test yang membutuhkan waktu kurang lebih  6 jam.

Pertanyaan yang digunakan saat Psikotest juga menurut saya pribadi tidak bisa 100% menjadi tolak ukur, anda pasti pernah melihat buku mengenai Tips & Trik lulus Psikotest di toko toko buku, siapapun bisa membacanya dan akhirnya validasi dari psikotest bisa diragukan uppsss maaf maksud saya bukan diragukan tapi tidak bisa di jadikan acuan 100% untuk menentukan “Nasib” seseorang.

Dan saya sungguh menyayangkan beberapa instansi perusahaan di indonesia masih sangat ‘meng-agung-agungkan’ hasil psikotest ini. dan akibat dari hasil Psikotest tersebut seseorang  bisa tidak diterima, dimutasi, atau bahkan di berhentikan menjadi karyawan, atau lebih parahnya lagi  tidak bisa diangkat menjadi karyawan tetap dan terus menerus di kontrak selama staff tersebut belum lulus Psikotest ;)   tanpa memperhitungkan aspek-aspek lainnya seperti hasil kerja, skill, keteramplian, dll.

Jadi siapapun anda yang membaca artikel ini, jangan berkecil hati jika suatu saat anda tidak lulus Psikotest, jika perusahaan anda tetap meng-kontrak anda sebelum anda lulus Psikotest, atau menunda kenaikan jabatan anda, jangan berkecil hati, masih banyak instansi lain yang masih mementingkan Skill anda ketimbang hasil Psikotest mungkin anda memang  belum cocok pada posisi tersebut.

Bagi anda yang bidangnya bergerak dibidang “Human Resources Department” janganlah kalian menentukan “Nasib” seseorang berdasarkan hasil Psikotest dan jangan memberikan jangka waktu yang lama untuk memperbaiki hasil Psikotest (seperti yang saya alami, karna tidak lulus Psikotest terpaksa di kontak 1 tahun, dan tahun depan baru berikutnya boleh mengikuti psikotest lagi. jika gagal lagi ya di kontrak lagi :p )

Dan jika anda adalah seorang Psikolog, pikirkan baik-baik keputusan yang anda berikuan karna anda harus bertanggung jawab sesuai apa yang anda “Kumandangkan” pikirkan baik-baik keputusan anda karna keputusan anda bisa menentukan “Nasib” seseorang.

Psikotes itu memang penting tapi tidak mutlak untuk dijadikan tolak ukur “Nasib” seseorang, kenapa? karena Kerja keras, Skill, Hasil karya, Pengalaman kerja dan intelektualitas Jauh Lebih Penting!!!

========================== End Here ==========================

Tulisan Terkait:

  1. Belajar Mencintai Seseorang Yang Tidak Sempurna Dengan Cara Yang Sempurna

14 thoughts on “Apakah Hasil Psikotest 100% Akurat Untuk Menentukan “NASIB” seseorang?

  1. memang betul. Sungguh aneh, bila seorang yang kompeten dan memiliki banyak prestasi di bidang nya (pengalaman), justru malah tidak bisa menduduki posisi yang pantas buat dia hanya karena lembaran kertas Psikotest. Psikotest semata tanpa ada pertimbangan lain seperti Interview User, sungguh lucu dan tidak adil. Kalau begitu, cari saja sana para kutu buku yg bisa hafal mati jawaban dan hitung2an

    Reply
  2. Pertimbangan seperti ini:

    Anda mungkin sangat menguasai pekerjaan/bidang anda, namun anda tdk bisa bekerjasama dlm tim, suka menunda2 pekerjaan, kurang teliti, tdk bisa menerima kritik, tdk bisa bekerja dlm tekanan atau kurang bisa interaksi dgn rekan anda. Sedangkan itu yg diinginkan perusahaan. Mungkin selama ini anda merasa tdk ada masalah, namun berbeda dgn anggapan perusahaan. buktinya hasil rekomendasi psikotes tsb dipakai oleh perusahaan.

    coba cari tau kekurangan anda dulu lalu usahakan perbaiki. bahwa bekerja itu bukan hanya bisa menyelesaikan tugas tapi jg byk faktor lain yg ujungnya harus memberikan keuntungan thd perusahaan. contoh; perusahaan menargetkan 100, walaupun bisa tercapai namun ada catatan/laporan perusahaan yg menyatakan sebenarnya bisa melampaui target namun karena ada bbrpa kryawan yg memiliki masalah hingga hanya cukup memenuhi target saja.

    Ingat perusahaan selalu ingin menggaji org2 yg terbaik, yg mampu memberikan yg terbaik dgn melampaui target. untuk apa mereka menggaji org yg tak mampu sedangkan masi byk org2 yg mampu menunggu kesempatan utk bekerja diperusahaan mrka.

    well, smua itu adlah kebijakan perusahaan yg menentukan karyawan seperti apa yg mrka inginkan dan psikolog/lembaga psikologi yg menyelenggarakan psikotes hanya bertugas memenuhi/merekomendasikan sesuai hasil psikotes.

    moga2 komen ini bisa ditayangkan :) thanks

    Reply
    • komentar tidak di tahan kok, di blog ini bebas mengemukakan pendapat, dan saya berterima kasih Anda mau meluangkan waktu untuk mengkomentari blog ini ;)

      Pada kasus yang saya ceritrakan di blog ini, saya sudah bekerja kurang lebih 2 tahun (kontrak) dan saat kontrak mau berakhir saya harus melakukan psikotes, jika lulus saya akan di angkat menjadi karyawan tetap, jika tidak maka kontrak akan di perbaharui.

      ya benar sekali, saya memang bukan manusia yang serba sempurna dan banyak sekali kekurangan saya, jika ada kekurangan yang ada dalam diri saya seharusnya pihak perusahaan memberitauhkan kepada saya, karna dalam kasus yang saya alami saat saya tanyakan “kenapa saya tidak lolos, dan apa kekurangan saya agar saya perbaiki?” pihak perusahan bungkam dengan berdalih, wah itu rahasia perusahaan dan itu yang mengerti adalah psikolog yang menguji psikologi kamu, kami hanya menerima lembar hasil tes bahwa kamu tidak lolos psikotes JADI KALAU MAU BEKERJA DISINI YA HARUS DI KONTRAK KEMBALI” (percakapan ini tidak saya cantumkan di blog, jadi saya tambahkan di sini)

      dengan lapang dada dan mau tidak mau saya harus menerima keputusan untuk kembali di kontrak walaupun ada perasaan yang mengganjal di hati saya mengenai jawabah hrd, dan ada yang lebih parah, rekan kerja saya ada yang sudah 5 sampai 8 tahun tetap di kontrak dengan alasan yang sama yaitu tidak lulus psikotest, dan saya jadi bertanya-tanya (bukan menuduh lho ya…) psikotest ini malah dijadikan ajank untuk membuat karyawan kontrak untuk selalu di kontrak selama mereka tidak lulus psikotest. (mudah”an yang saya khawatirkan tidak terjadi ;) )

      Reply
  3. Bener mas, seharusnya yang di nilai itu hasil kerja, kreatifitas kerja, disiplin kerja, bukan dari hasil psikotes. Orang perusahaan kan gak tahu kalau orang yang gak lulus psikotes kerjanya disiplin atau tidak, kerjanya bagus atau tidak.

    Reply
  4. Dagelan psikolog itu gan.
    Biar psikolognya ada kerjaan. :D

    Ane heran ama psikolog, suka sotoi ngenilai orang. Padahal baru ketemu.
    Kamu tidak cocok kerja di air!
    Kamu orangnya ceroboh!

    ,ah…kampreto..!

    Reply
  5. imo, psikotest tulis kurang efektif karena peserta test bisa mengakali dengan persiapan sebelumnya. yaitu dengan membeli buku2 pedoman lulus psikotest, nah kalo demikian kan jadi ga ori hasilnya psikotest tersebut ‘kan?
    memang pada beberapa aspek psikotest diperlukan untuk mengukur iq dan eq seseorang, tapi mnurut saya psikolog yg sbnernya bisa melakukannya saat interview saja. bahasa tubuh, ekspresi wajah, sorot mata, intonasi suara dan apa yang bisa terlihatkan dari seseorang secara kasat mata bisa dijadikan pertimbangan.
    jadi mnurut saya yg baik itu ya hasil psikotest dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan dan bukannya satu-satunya acuan pedoman perusahaan untuk menetapkan/mengangkat karyawan. cmiiw

    Reply
  6. Sama Gan Ane juga heran sama Psikotest. Dan Ane paling heranin tu Ane memang gak punya keahlian menggambar, ya jelaslah gambar Ane jelek. Malah masih bagusan gambar anak paud. Nah terus kenapa bisa jelek penilainnya? Jujur adja memang Ane gak bisa menggambar. Apa karena gambar Ane jelek jadinya gak punya skill? Dan yang bagus gambarnya punya skill gitu? Kan belum tentu, dia bisa gambar belum tentu bisa ngitung” atau bisa komputer.
    Kok bisa”nya cuman gara” gambar jelek kita gak cocok. Wkwwkkwkwkwk kan lucu..
    Sampe skarang Ane masih penasaran deng psikotest.

    Reply
  7. Sama mba…ni aq dah bolak blik k perusahaan itu.dr pusat k cabang trus psikots..n kyana ga dtrima..soalnya susah bnr kya mo msk bumn aja..lngsng laper krn dr pgi smp jam 3 ngrjainnya..n blm ad jwbn smp skrg..hikszz

    Reply
  8. Setuju mass,,,saya juga baru ngalamin dan menurut saya pertanyaan dari tesnya itu terlalu memaksa harus memilih jawaban yang tidak seharusnya dipilih tapi karena tidak ada pilihan mau gak mau harus milih juga dan ternyata ujung2nya hasilnya bikin meringis hehehe

    Reply
  9. Beberapa kali saya ikut psikotes di perusahaan, dan hasil nya gagal semua. Saya heran bagaimana bisa kemampuan seseorang di lihat hanya dr tes psikotesnya saja, tp kemampuan yg lain.nya tidak lihat…
    Padahal sesorang bisa mengerjakan suatu pekerjaan dgn baik,benar dan lancar kan karna sudah biasa (bisa karna biasa) knp ga d ksh kesempatan untuk itu yaaa ????

    Reply

Leave a reply

required

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>